Sabtu, 31 Desember 2022

DUA MACAM RESPON HATI MANUSIA TERHADAP ILMU

 


بسم الله الرحمان الرحيم

💬  Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

“Sesungguhnya hati apabila keadaannya lemah lembut, maka ia menerima ilmu dengan mudah dan gampang.  Dan ilmu yang berada di dalam hati tersebut tertanam dengan kokoh dan kuat serta memberikan pengaruh.  Adapun hati yang keras lagi bengis, maka ia menerima ilmu dengan susah payah.”*

📚  Majmu’ Al-Fatawa, 9/31


«فإن القلب إذا كان رقيقا لينا كان قبوله للعلم سهلا يسيرا ورسخ العلم فيه وثبت وأثّر، وإن كان قاسيا غليظا كان قبوله للعلم صعبا عسيرا».

📍 #مَجموع الفتاوى لابن تيمية جـ٩ صـ٣١.

---

*  Ilmu yang dimaksud, adalah Ilmu Agama yang berasal dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apa-apa yang selaras dengannya, bukan sembarang ilmu, (pen blog).

oOo

Disalin dengan editan dari;

 https://telegram.me/qoulussalaf




Rabu, 28 Desember 2022

PERAN ILMU DALAM BERAMAL

 


بسم الله الرحمان الرحيم

Berkata Sahabat yang mulia, Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu;

 "Ilmu adalah penuntun amal, sementara amalan adalah para pengikutnya."*

(Al-Amru bil Ma'ruf, hal 27)


*  Sehingga, bila ilmunya shahih (benar) yang diambil dari misykat Nubuwah - akan benar pula amal-amalnya.  Tetapi bila ilmunya rusak akan rusak pula amal-amalnya, (pen blog)

oOo

ANGAN-ANGAN PENGHUNI KUBUR (1)

 


بسم الله الرحمن الرحيم

Berkata Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah:

"Dan ketahuilah semoga Allah merahmati dirimu, sesungguhnya penghuni kubur itu, angan-angan salah seorang dari mereka adalah, 

▫️ Ingin bisa bertasbih dengan satu kali tasbih, sehingga akan bertambah kebaikannya, 

▫️ Atau ingin bertaubat dari sebagian kesalahannya,

▫️ atau bisa shalat satu rakaat yang dengannya akan terangkat derajatnya."

[Washiyat Al-Aalim Al-Jalil Al-Maqdisi, 11]


أمنية أهل القبور..

قال ابن قدامة المقدسي رحمه الله تعالى :

واعلم رحمك الله أن أهل القبور  أمنية أحدهم أن يسبح تسبيحة تزيد في حسناته أو يقدر على توبة من بعض سيئاته او ركعة ترفع في درجاته.

وصية العالم الجليل المقدسي 11


oOo


Disalin dengan editan dari;

http://telegram.me/faedahsalafy



Minggu, 25 Desember 2022

TABIAT HATI YANG SEHAT

 


بسم الله الرحمن الرحيم

✍🏻  Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

والقلب خلق يحب الحق ويريده ويطلبه.

"Hati (Qalbu) diciptakan dalam keadaan mencintai kebenaran, menginginkannya, dan (berupaya) mencarinya."* 


📚  Majmu' Al-Fatawa، (88/10)


*  Inilah puncak tujuan Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan hati (qalbu) manusia, pikiran dan Panca inderanya.  Merupakan fitrah awal (azali) penciptaan manusia.

Bila tidak didapati tanda-tanda demikian, bisa dipastikan hati itu sedang sakit - bahkan mungkin telah mati, meskipun secara fisik masih terlihat segar bugar (glowing).  

Tanpa rahmat dari Allah 'Azza wa Jalla, manusia semacam ini biasanya baru tersadar bahwa hatinya sakit atau mati bila telah berpindah ke Alam Barzakh, 

Baca juga artikel, APA ITU FITRAH? (pen blog). 

oOo


Disalin dengan editan dari;

 http://telegram.me/ForumSalafy


Jumat, 23 Desember 2022

AJARKAN KEPADA MANUSIA AS-SUNNAH

 


بسم الله الرحمن الرحيم

🔸Berkata Hisyam bin Urwah rahimahullahu:

لا تسألوا الناس اليوم عما أحدثوه ؛

فإنهم قد أعدوا له جوابا !

لكن سلوهم عن السنة ؛

فإنهم لا يعرفونها !

[ خطبة الكتاب المؤمل (163) ]


💤❓"Janganlah kalian menanyakan kepada manusia pada masa sekarang ini, tentang apa yang mereka ada-adakan dalam perkara Agama (bid'ah).

Karena sesungguhnya mereka telah menyiapkan jawabannya.

🔎💡 Akan tetapi tanyakan kepada mereka tentang As-Sunnah,

💤🚩 Karena sesungguhnya mereka tidak mengetahuinya."


📚  Khutbatul Kitab Al -Muamal (hal. 163).


oOo


Disalin dengan editan dari;

http://bit.ly/ForumSalafyPurbalingga

BILA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI

 


بسم الله الرحمان الرحيم

 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah 

Misalnya, ada seorang yang lupa tidak melakukan tasyahud awal, maka dia wajib sujud sahwi, dan tempatnya adalah sebelum salam.

 Akan tetapi jika dia lupa, dan langsung salam.  Jika dia teringat belum lama, maka dia bisa langsung sujud. 

Apabila sudah lama waktunya, maka gugur.  Misalnya dia teringatnya setelah waktu yang lama.  Maka sujud sahwinya gugur.


📑  Asy-Syarh Al-Mumti’, 3/397 


قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله:

مثاله : رجل نسي التشهد الأول ؛ فيجب عليه سجود السهو ، ومحله قبل السلام ، لكن نسي وسلم ، فإن ذكر في زمن قريب سجد ، وإن طال الفصل سقط ، مثل : لو لم يتذكر إلا بعد مدة طويلة. 

الشرح الممتع 397/3


oOo

Disalin dengan editan dari;

http://telegram.me/ahlussunnahposo



MUHASABAH (BERSOLEK UNTUK PERHELATAN AKBAR)

 


بسم الله الرحمن الرحيم

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun demi tahun pun berlalu.  Semua adalah tahapan yang ditempuh seorang hamba menuju Negeri Akhirat, akhir dari tujuan penciptaaan manusia.

Setiap hari yang dilalui semakin menjauhkan mereka dari dunia dan mendekatkan pada Akhirat.  Maka sungguh berbahagialah orang yang senantiasa menggunakan berbagai kesempatan yang dimiliki untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat.  Alangkah beruntungnya seorang hamba yang menyibukkan diri dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari berbagai maksiat.  Dan, merugilah (celaka) orang yang tenggelam dalam kesibukan dunia, melalaikan Akhiratnya.


Kehidupan dunia merupakan penentu masa depan seorang hamba di Akhirat kelak.  Akankah dia bisa memanfaatkan umurnya dalam hal-hal yang baik, dalam ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, sehingga kelak dia berada di negeri yang penuh dengan kenikmatan abadi atau justru sebaliknya,  dia menghabiskan umurnya dalam berbagai perkara yang sia-sia dan kemaksiatan kepada Allah, sehingga siksa yang pedih pun telah menunggu di alam Barzakh dan negeri Akhirat.  

Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

Seorang muslim yang baik selalu berupaya mengisi waktu dengan menunaikan kewajiban, menjauhi larangan dan memperbanyak amal shalih sebagai bekal terbaik untuk menyongsong kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, untuk bisa tetap istiqamah dalam melakukan amal shalih, maka salah satu upaya yang ditempuh adalah senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi diri) terhadap segala aktivitas yang telah dijalani dari hari ke hari, maupun yang akan dilakukan.

(Baca juga artikel, APA ITU AMAL SHALIH? dan APA ITU FITRAH?)

Pengertian Muhasabah

Secara etimologi muhasabah berasal dari kata kerja hasiba yang artinya menghisab atau menghitung.  Dalam penggunaannya diidentikan muhasabah dengan proses pengamatan terhadap diri sendiri, introspeksi diri, mawas atau mengevaluasi diri.

Muhasabah dapat dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah muhasabah sebelum melakukan pekerjaan.  Sedangkan yang kedua adalah muhasabah setelah melakukan pekerjaan.  Keduanya sangat penting dilakukan oleh seorang muslim.  Muhasabah yang pertama akan menjadikan pekerjaan yang dia lakukan bernilai positif baginya baik dunia maupun di Akhirat.  Sedangkan muhasabah yang kedua akan memudahkan untuk menambal kekurangan pekerjaan yang telah dilaksanakan serta menjadikan pekerjaan yang akan dilakukan lebih sempurna.

Para 'ulama dari masa ke masa senantiasa memberikan dorongan kepada kaum muslimin agar melakukan muhasabah.  Di antaranya, sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan, 

"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab!  Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang! Sesungguhnya introspeksi diri pada hari ini lebih ringan daripada hisab di kemudian hari.  Berhiaslah untuk perhelatan akbar (Hari Akhir), pada hari yang segalanya akan tampak dan tidak ada yang tersembunyi dari kalian!"

Demikian pula Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, "Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri.  Ia melakukan introspeksi diri karena Allah.  Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat kelak akan lebih ringan bagi yang telah melakukannya di dunia."

Kenapa setiap manusia harus melakukan introspeksi terhadap diri sendiri?  Perlu diketahui, bahwa jiwa manusia itu senantiasa mengajak pada keburukan.  Tidak seorang pun yang selamat darinya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka, sungguh merugi orang yang meninggalkan muhasabah dan selalu menuruti hawa nafsu.

Muhasabah akan memunculkan rasa takut kepada Allah.  Dan rasa takut kepada Allah akan menekan kecenderungan hawa nafsu yang kerap mengajak pada perbuatan negatif (maksiat).  Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa bersabda kepada para Sahabat dalam pembukaan khutbah Beliau;

"Segala puji bagi Allah. memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampunan kepada Nya.  Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita (HR. Ibnu Majah,  dishahihkan olehnya)

Dengan demikian, salah satu metode menekan kekuasaan hawa nafsu pada diri seseorang adalah dengan selalu melakukan muhasabah.  Maka seorang hamba yang beriman kepada Allah dan hari akhir harus melakukan introspeksi terhadap hawa nafsunya. Mempersempit ruang geraknya serta menahan gejolaknya.  Barangsiapa mengabaikan muhasabah dan senantiasa memperturutkan hawa nafsu, maka sungguh dia berada dalam kerugian yang besar.  Hakikat kerugian tersebut baru benar-benar akan tampak nyata pada Hari Kiamat kelak.


Metode muhasabah

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ber-muhasabah bisa dilakukan dengan menimbang antara kenikmatan yang Allah karuniakan dan kejahatan yang kita lakukan.  Artinya kita melihat berbagai anugerah yang telah Allah berikan kepada kita dan melihat apa yang telah kita perbuat.  Dengan begitu, akan tampak kesenjangan yang sangat jauh antara keduanya.

Betapa Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mencurahkan berbagai kenikmatan lahir dan batin kepada kita, sementara kita tidak pandai mensyukurinya.

Harus diakui, bagaimanapun upaya seorang hamba untuk mensyukuri nikmat tersebut, niscaya dia tidak akan mampu melakukannya. Bagaimana tidak, menghitung saja tidak akan bisa karena demikian banyaknya untuk disyukuri.  Allah berfirman (artinya);

"Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat membilangnya.  Sesungguhnya Allah benar benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." 

(QS.  An-Nahl; 181) 

Sedangkan kita dituntut untuk selalu berusaha mensyukurinya.  Allah berfirman (artinya): 

"Maka ingatlah Aku,  niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian ingkar."  

[QS. Al-Baqarah: 152].

Dalam ayat ini,  Allah memerintahkan kita untuk mensyukuri semua karunia-Nya tanpa terkecuali.  Dari sinilah kita menilai diri kita.  Apakah kita telah bersyukur pada-Nya atau justru mengingkari nikmat-nikmat tersebut dengan bermaksiat pada-Nya.  Inilah nilai muhasabah tersebut.

Maka, agar umur kita yang sangat terbatas di dunia ini semakin produktif menghasilkan berbagai amal shalih,  maka konsisten dalam muhasabah adalah solusi terbaik untuk bisa mewujudkannya. Dengan muhasabah, mari kita jelang masa depan dengan perubahan-perubahan yang gemilang dalam beribadah kepada Allah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.


Manfaat Muhasabah

Dengan merenungi hari-hari dalam hidup ini, bermuhasabah diri, sejatinya merupakan bentuk kasih sayang seorang hamba terhadap dirinya sendiri, agar jangan sampai mengalami kerugian tiada tara di Akhirat kelak.  Muhasabah adalah sebuah upaya untuk mengingatkan diri dengan serius, agar senantiasa melakukan amal kebaikan dan menghindari keburukan.

Diantara manfaat muhasabah adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui aib diri sendiri

Seseorang yang tidak mengetahui aib dirinya sendiri, tidak mungkin dia akan sadar dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, agar bisa membuang aib tersebut.  Para 'ulama terdahulu merasakan bahwa aib mereka sangat besar, padahal sejatinya aib mereka jauh lebih kecil daripada keutamaan dan keilmuan mereka. Yunus bin Ubaid pernah berujar, 

"Sesungguhnya aku menjumpai seratus kebaikan Namun tidaklah aku melihat satu pun pada diriku."

Muhammad bin Wasi' mengatakan dengan penuh kerendahan diri padahal beliau adalah seorang ahli ibadah, "Seandainya dosa-dosa itu mempunyai bau, sungguh tidak akan ada seorang pun yang sanggup duduk di dekatku" 

Demikianlah penuturan sebagian 'ulama hasil muhasabah yang mereka lakukan terhadap diri sendiri.


2.  Mengetahui hak Allah terhadap seorang hamba

Dengan mengetahui hak Allah, maka seorang hamba akan mencela nafsunya yang senantiasa mengajak pada keburukan.  Ia akan selalu berupaya untuk membebaskan jiwanya dari penyakit 'ujub (bangga terhadap amalan) dan riya' (pamer amalan) yang akan mengotori.  Di samping itu, mengetahui hak Allah atas hamba akan membukakan pintu ketundukan, penghinaan diri dan keprasahan di hadapan-Nya.

Dengan muhasabah, seseorang akan berusaha aktif dalam menunaikan hak Allah.  Demikianlah kondisi kaum salaf, mereka mencela diri sendiri atas kelalaian mereka dalam menunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta'alaImam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata 

"Seseorang itu tidak akan dikatakan memahami agama ini dengan baik sampai dia murka kepada orang-orang karena mereka menyepelekan hak Allah.  Lalu dia melihat dirinya ternyata dia lebih murka pada dirinya sendiri" 

3. Muhasabah akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah

Seorang mukmin meyakini bahwa kelak pada hari perhitungan dia akan ditanya, dimintai pertanggungjawaban atas segla amal perbuatannya di dunia, dalam perkara sekecil apapun.  Saat itu, hanya rahmat, ampunan dan belas kasihan dari Allah yang diharapkan atas amal kebaikan yang pernah dilakukan. 

Maka nyatalah bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa selamat dari berbagai kesulitan tersebut, melainkan memohon taufik dari Allah untuk bermuhasabah dan mengawasi jiwa dalam setiap gerak-geriknya di dunia.  Sungguh benar kata Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, bahwa barangsiapa menghisab dirinya di dunia, menjadi ringanlah perhitungannya di Hari Kiamat nanti. Jika seorang hamba bersungguh-sungguh melakukan muhasabah semasa hidupnya, niscaya dia akan bisa beristirahat di masa setelah kematiannya.  Apabila dia mengekang jiwanya dan kelak dia akan meraih keberuntungan saat dahsyatnya Hari Hisab.

Allah pun mencela hamba yang lalai dan tidak mengharapkan yaumul hisab (perhitungan).  Allah pun berfirman

"Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) terhadap hisab (perhitungan)" 

[QS. An-Naba': 271].  

As-Sa'di menjelaskan bahwa maksudnya adalah orang-orang kafir tidak beriman terhadap hari pembalasan, dan tidak percaya bahwa Allah akan membalas kebaikan dan keburukan manusia dengan balasan yang setimpal.  Oleh karenanya, mereka tidak beramal untuk menghadapi kehidupan Akhirat. 

Saudaraku, marilah kita mengambil pelajaran untuk memanfaatkan sisa usia dengan bercermin pada apa yang telah lalu.  Ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang akan datang itu telah dekat, dan semua yang ada pada diri kalian pasti akan musnah. Maka bersegeralah melaksanakan amal shalih sebelum datangnya kemusnahan.  

Allahu a'lam.

oOo


Disadur dari tulisan Ustadz Abu Hafiy hafizhahullah

Majalah Tashfiyah Edisi 11 Vol.01 1433H-2011M





Minggu, 18 Desember 2022

TIGA HUKUMAN BAGI YANG MELUPAKAN KEMATIAN

 

بسم الله الرحمان الرحيم

Berkata Hamid Al-Laffaf rahimahullah;

"Barangsiapa yang melupakan kematian, maka dia akan dihukum dengan 3 (tiga) bentuk hukuman;

1. Taubat yang selalu ditunda-tunda.

2. Hati yang tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah (dunia).

3. Malas dalam melakukan ibadah."

(Ucapan ini dinukil oleh Al-Imam Al-Qurtubi rahimahullah dalam kitab "At-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta", hal. 126.  Pada satu naskah tertulis nama "Ad-Daqqaq" rahimahullah, namun dalam beberapa manuskrip asli tertulis "Al-Laffaf" rahimahullah)

oOo

Sabtu, 17 Desember 2022

HUKUM MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAAT KHATIB BERDO'A

 


بسم الله الرحمن الرحيم

🔸Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullahu ditanya 


❓Pertanyaan:

Apa hukum seorang yang mengangkat kedua tangannya tatkala khatib berdo'a, untuk kaum muslimin pada khutbah kedua.  Dengan menyebutkan dalilnya. 

Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.


🔓 Jawaban:

Mengangkat kedua tangan dalam khutbah Jum'at saat khatib berdoa, maka ini tidak diajari'atkan

🚫  Tidak pula pada khutbah 'Ied, tidak bagi imam dan tidak pula bagi makmum.

✔  Hanya saja yang disyari'atkan adalah diam mendengarkan khatib dan MENGAMINKAN do'anya, dengan suara yang lirih, tanpa mengeraskan suara.

🔎  Adapun mengangkat tangan, maka ini tidak disyariatkan.  Dikarenakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdo'a.  Tidak pada khutbah Jum'at, tidak pula pada khutbah Ied.

🔖  Maka tatkala sebagian para Shahabat, melihat sebagian para pemimpin melakukan itu mereka mengingkarinya.

Dan mengatakan: "Tidaklah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, mengangkat kedua tangan Beliau ketika berdo'a (dalam khutbahnya)."

↪  Iya, apabila seorang khatib beristighatsah pada khutbah Jum'at untuk meminta hujan, maka disyariatkan untuk mengangkat kedua tangannya dalam do'a tatkala istighatsah.

Yakni meminta turunnya hujan.

🔰  Dikarenakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan Beliau ketika itu.

🌾  Apabila seorang khatib berdo'a meminta hujan pada khutbah Jum'at atau khutbah Ied, maka disyariatkan mengangkat kedua tangannya dalam rangka mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.


oOo


Disalin dengan editan dari;

http://www.binbaz.org.sa/node/1317

http://bit.ly/ForumSalafyPurbalingga

Jumat, 16 Desember 2022

BERGEMBIRA PADA HARI JUM'AT

 


بسم الله الرحمن الرحيم

🔰  Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadiy Al-Madkhaliy rahimahullah berkata :

فينبغي للمسلم : أن يهتم بشأن الجمعة عيد الأسبوع وميزة هذه الأمة ويفرح بقدوم يومها لما فيه من الفضائل والنفحات لأهل الاسلام والايمان والاحسان والجمع والجماعات ما لا يوجد في يوم سواه من سائر الايام والشعائر الاخرى من العبادات"

الافنان الندية(2/135)


🚩 "Seharusnya bagi seorang muslim untuk memberi perhatian yang lebih pada hari Jum'at, yang mana ini merupakan hari 'Ied setiap pekan.

🌷 Dan merupakan keistimewaan umat ini, dan hendaklah pula ia bergembira dengan kehadiran hari tersebut.

💐 Yang padanya terdapat sekian banyak keutamaan, serta anugerah kebaikan bagi Ahlul Islam (Muslim), Iman (Mukmin) dan ihsan (Muhsin) serta masyarakat secara umum.

📆  Yang mana hal ini tidak didapati pada hari lain dari hari-hari yang ada.  Serta syi'ar-syi'ar ibadah yang lainnya."


📕  Al-Afnan An-Nadiyah (2/135)


oOo


Disalin dengan editan dari;

🔰🌠Forum Salafy Purbalingga

http://bit.ly/ForumSalafyPurbalingga

Selasa, 13 Desember 2022

FITNAH TERBESAR SEORANG HAMBA

 


بسم الله الرحمان الرحيم

Sahabat yang mulia Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu anhu ditanya, Fitnah apa yang paling berbahaya?  Beliau menjawab,

"Dihadapkan kepada hatimu kebaikan dan keburukan, namun engkau tidak tahu terhadap keduanya (jalan) mana yang harus engkau tempuh."*


📚  Al Fitan li Nua'im bin Hammad, (119)


*  Berarti Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menganugerahkan ke dalam hatinya Furqan (Kemampuan untuk membedakan, memilah-milah antara kebaikan dengan keburukan, antara Al-Haq dan Al-bathil, antara pahala dengan dosa berdasarkan timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah).  Jadilah ia seperti seorang pengembara yang berjalan tanpa penunjuk arah, tidak mengetahui rute perjalanan.  Orang semacam ini kemungkinan tersesatnya lebih besar daripada selamat, (pen blog). 

oOo


Disalin dengan editan dari;

🔗 https://t.me/rayatalislah/3885

TUJUAN PARA RASUL DIUTUS

 


بسم الله الرحمن الرحيم

Dari 124.000 orang Nabi dan Rasul yang pernah diutus, 315 (tigaratus lima belas) orang di antaranya adalah Rasul (Al-Hadits).  Misi dan tujuan mereka semuanya sama, yaitu menyeru manusia agar menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, menegakkan Tauhid, memurnikan keta'atan kepada Allah dan Rasul-Nya, memurnikan syari'at, menjauhi kesyirikan, khurafat (tahayul), bid'ah (penyimpangan dalam keyakinan dan amal ibadah), dan pemikiran-pemikiran sesat manusia, bukan untuk mendirikan Negara Islam (Khilafah).

Khilafah (Negara Islam) hanyalah hasil ikutan (bonus) setelah tegaknya aturan Islam (Tauhidullah) di dalam dada setiap individu manusia yang beriman dan bertaqwa.


Rasulullah, Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam dahulu ditawari singgasana, kekuasaan dan harta oleh kaum kafir Quraisy, apakah Beliau menerimanya?  Tidak.  

Bahkan tidak tanggung-tanggung, Allah Subhanahu wa Ta'ala Sendiri pun pernah menawarkan kepada Beliau shallallahu'alaihi wa sallam, apakah akan dijadikan Nabi sekaligus Raja (Kepala Pemerintahan / Kepala Negara), atau sebagai seorang hamba yang menjadi Nabi, maka Beliau memilih yang kedua.  Apakah tidak terpikirkan oleh Beliau pada waktu itu, bila menjadi Kepala Pemerintahan mungkin dakwah Beliau lebih mudah tersebar dan diterapkan kepada rakyat dan bangsa Arab serta seluruh dunia?  Rasanya mustahil.  Dan, kenapa Beliau lebih memilih "merangkak" dari bawah? padahal perjuangannya secara logika pasti akan lebih berat dan sulit!

Demikian pula yang terjadi pada diri Nabi Musa 'alaihissalam, setelah Fir'aun dan bala tentaranya ditenggelamkan Allah Subhanahu wa Ta'ala di Laut Merah, apakah Nabi Musa 'alaihissalam mengambil alih tahta kekuasaan dan kerajaannya?  Tidak, padahal kesempatan itu sangat terbuka lebar dan mudah untuk didapatkan.  Kenapa?  Karena bukan itu tujuan Nabi Musa 'alaihissalam diutus. Banyak lagi contoh-contoh lainnya.  

Hanya segelintir Nabi dan Rasul yang dijadikan Raja oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, itupun sebagai ujian, bukan sebagai tujuan!  Mereka malu dan takut pada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk "gagah-gagahan" menjadi seorang kepala negara di dunia ini yang lazimnya bergelimang dengan kesenangan dan kemewahan, sementara ada satu orang rakyatnya yang berlinang air mata, luput dari perhatian.

Khalifah yang mulia Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu, begitu didaulat oleh rakyatnya untuk menjadi Pemimpin Negara, beliau langsung menyumbangkan seluruh harta kekayaannya kepada Baitul Mall, dan beliau beserta isteri yang juga berasal dari keluarga bangsawan kaya raya hidup dalam keadaan sederhana (miskin), karena rasa takut dan takwa yang begitu tinggi terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, terhadap pertanggung jawaban seorang pemimpin kelak di Yaumal Qiyamah di hadapan Allah 'Azza wa Jalla.

(Baca artikel, KENAPA MEREKA ZUHUD?)

Kamar tidur Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjadi saksi bisu, jangankan Singasana atau kasur empuk sebagai tempat duduk dan tempat membaringkan tubuh Beliau yang mulia.  Hanya pelepah kurma dan daunnya yang dipakai sebagai alas tidur Khalilullah (kekasih  Allah yang paling istimewa dan khusus) shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga tidak jarang meninggalkan bekas di pipi Beliau yang mulia.  Yang menyebabkan Sahabat Umar bin Khattab menangis menyaksikan kesederhanaan hidup Khalilulah (Kekasih Allah yang teristimewa dan khusus) ini.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an menegaskan;

  وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul bagi setiap umat (agar menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan.  Maka berjalanlah kamu di permukaan bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (Rasul-rasul itu)."

(QS.  An-Nahl;  36)

Di masa sekarang, tidak sedikit kaum muslimin yang memiliki pandangan keliru, menyangka bahwa tujuan para Nabi dan Rasul diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah untuk mendirikan Negara Islam (Khilafah).  Dengan semangat yang menggebu-gebu, lupa dengan kondisi umat Islam sekarang yang telah terpecah belah.  Padahal memurnikan aqidah dan amaliyah mereka mengikuti Manhajnya para Sahabat itu jauh lebih penting dan bermanfaat daripada mendirikan Khilafah menuruti angan-angan mereka.

Hal ini bukan berarti penulis anti pati terhadap Khilafah Islamiyah, bukan.  Tetapi umat Islam Indonesia harus mengetahui dan memiliki skala prioritas yang harus mereka benahi dan capai sebelum mendirikan Khilafah.  Ibarat membangun sebuah gedung, harus didirikan dulu pondasi yang bagus, kuat dan kokoh.  Agar bangunan yang berdiri di atasnya tidak mudah ambruk.  Semakin kokoh dan bagus pondasi yang dibuat semakin tinggi pula bangunan yang dapat didirikan di atasnya.

Maka, selayaknya kita ajukan pertanyaan pada mereka, agar tidak menimbulkan polemik yang berkepanjangan, "Negara Islam macam apa yang mau didirikan?  Khilafah yang bagaimana?"  Apakah Negara Islam versi NU (Islam Nusantara), MUHAMMADIYAH, AHMADIYAH, MASYUMI, NII, JAMA'AH TABLIGH, SYI'AH, SUFI, ISIS, DI-TII, SUNNI, FPI, HTI, Ponpes Al-Zaytun dan lain-lain?  Pertanyaan ini menjadi sangat penting, karena Sunnatullah yang telah terjadi (baca; terus berkembang), terpecahnya pemahaman (keyakinan) umat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi 73 (tujuh puluh tiga) kelompok, bahkan lebih.  Semua di atas kebathilan (kesesatan) yang diancam Allah dan Rasul-Nya dengan Neraka, kecuali hanya satu kelompok saja yang selamat.  Yaitu orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Manhaj (Metode beragama) Salafus shalih dari tiga generasi awal terbaik Islam.   

Mereka berbeda pemahaman tidak hanya dalam hal yang bersifat furu' (cabang Agama) saja melainkan juga dalam masalah aqidah (keyakinan), Ushul (pokok-pokok agama).  Kalau tidak demikian mustahil Rasulullah mengancam mereka dengan Neraka dan mengatakan mereka sesat.  Seperti misalnya orang-orang Khawarij yang Beliau sebut sebagai Kilabunnar ("Anjing-anjing Neraka"), padahal ibadah mereka secara dzahir mengungguli para Sahabat, seperti shalat, puasa, bacaan Al-Qur'an dan lain-lain, serta semangat juang mereka yang menggebu-gebu ingin menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber hukum, tetapi mereka lupa bahwa hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah lebih rendah derajatnya sebagai sumber hukum dalam Islam, karena keduanya adalah Wahyu yang diturunkan dari atas langit.  Siapapun tidak akan bisa memahami Islam dengan baik dan benar tanpa bimbingan keduanya (Al-Qur'an dan As-Sunnah).

Lalu, bagaimana mungkin mengharapkan orang-orang yang berbeda pandangan dan keyakinan tersebut menyatu dalam satu Khilafah Islam?  Padahal masing-masing kelompok memiliki persepsi, pemahaman dan keyakinan (aqidah) yang berbeda-beda tentang Islam?  

Ada lagi Islam versi Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India.  

Berpikirlah wahai orang-orang yang memiliki Akal, jangan mudah terjebak perangkap Syaitan dan Iblis yang berkedok (baca; iming-iming) Negara Islam (Khilafah), tetapi berujung dengan kehancuran karena terjadi perang saudara sesama muslim.

(Baca artikel, BELAJAR DARI TRAGEDI SURIAH)

Dalam agama Islam yang lebih dipentingkan (prinsip) itu bukan Negaranya, melainkan kemurnian syari'at Islam tersebut, shahih bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah (Karena keduanya merupakan Wahyu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan dari atas langit ke-7), serta keikhlasan umat yang mengamalkannya.  Apa gunanya negara Islam bila masyarakat Islam yang ada di dalamnya bergaya hidup sekuler, berkeyakinan seperti orang-orang munafik, seperti kondisi masyarakat yang menggejala akhir-akhir ini di kota Makah dan Madinah maupun Jazirah Arab, serta hedonisme sebagai tujuan hidup, yang akan menjadikan mereka semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak menghargai (mengagungkan) dan tidak berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.

Bahkan, semakin banyak mereka mereguk kenikmatan dunia ini akan menjadikan hati jadi semakin keras, sulit menangis dan bermunajat keharibaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta mudah tercebur ke dalam berbagai bentuk maksiat.

Satu hal lagi, bahwa mayoritas para Nabi dan Rasul Allah Subhanahu  wa Ta'ala memulai dakwah mereka (berjuang) dari bawah (akar rumput), "Dor to dor" secara bertahap bergerak ke atas sampai ke pucuk pimpinan.  Bukan sebaliknya, dengan cara menyuruh rakyat (demokrasi) untuk memilih (mencari) pemimpin yang "sekaliber Khulafaur Rasyidin" yang mustahil mereka temukan dan dapatkan pada zaman sekarang.  Lalu, pemimpin tersebut menerapkan aturan syariat Islam dari atas hingga ke bawah.  Hal ini disamping bertentangan dengan Sunnatullah yang berlaku, juga bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan seorang pemimpin di sebuah Negara berdasarkan keadaan (kondisi) rakyatnya, karena pemimpin itu adalah gambaran kualitas rakyatnya.  Sunnatullah yang pasti berlaku.  Meskipun tidak dipungkiri bahwa baiknya seorang pemimpin negara akan berdampak baik bagi rakyatnya.  Tapi jangan lupa, bahwa pemimpin tersebut tidak akan bisa bekerja sendiri, tanpa bantuan orang-orang (para pejabat) yang berada di bawah yang mendukungnya.

Jadi, semakin baik kualitas rakyatnya maka pemimpin yang dipilihnya juga akan semakin bagus / baik pula.  Sebaliknya pun begitu.

Dan, Allah Subhanahu wa Ta'ala sepanjang sejarah Islam selalu lebih meninggikan "satu ranting" (mengutamakan) kualitas iman (ilmu) seseorang daripada banyaknya jumlah (kuantitas).

Sebuah hadits yang berbicara tentang kualitas umat Islam akhir zaman ini (artinya);

"Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang memperebutkan makanan di atas nampan."  Kemudian ada sahabat yang bertanya: "Apakah saat itu kami berjumlah sedikit?"  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian seperti buih di atas air bah.  Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn ke dalam hati kalian." Ada sahabat yang bertanya lagi: "Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?" beliau menjawab: "Cinta dunia dan takut mati."

(Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya)

Adalah suatu hal yang mencengangkan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, pernyataan beberapa petinggi Ormas Islam terbesar di Indonesia ini yang tidak lagi meyakini Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai problem solving setiap permasalahan hidup manusia akhir zaman, tetap up to date hingga Hari Kiamat kelak.  Aneh bin ajaib tapi nyata, bahkan mereka mengejek beberapa hadits shahih Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sebagai kebudayaan bangsa Arab.  Telah sedemikian butakah mereka?  Tidak mampu membedakan antara syariat yang bersumber dari hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dengan kebudayaan bangsa Arab?  Begini contoh manusia yang akan mendirikan Khilafah Islamiyah?  Bahkan, mereka lebih cenderung pada Islam Nusantara (Islam model baru) yang mereka gagas sendiri daripada mencintai Al-Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.  Mereka berangan-angan, Islam Nusantara inilah yang akan mempersatukan umat Islam Indonesia.  Laa haula walaa quwwata illaa billah.  Musibah terbesar.

(Baca artikel, MASALAH IMAN BUKAN MASALAH SELERA)

Jadi, buih (busa) yang terdapat di atas air bah itu hakikatnya adalah air keruh bercampur dengan berbagai macam kotoran.  Dan, bagaimana pun menyatukan (mengumpulkannya) akan tetap menguap (hilang) terkena cahaya matahari, karena isinya hanyalah udara yang kosong melompong.

Telah maklum di kalangan ahli ilmu dan orang-orang bertaqwa, bahwa kualitas iman yang dimaksud tidak akan berhasil diraih kecuali setelah melewati ujian (cobaan) dan tempaan hidup yang berat.  Seperti digambarkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-Baqarah; 214 berikut;

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ


"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga? Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapankah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat."

Singkat kata, hanya manusia-manusia "berkualitas" yang akan dimasukkan Allah ke dalam Surga-Nya, tentunya setelah melewati berbagai saringan dan tempaan dalam hidup.

(Baca artikel, KAITAN ANTARA SURGA DENGAN IMAN)

Berbeda halnya dengan kemunculan Imam Mahdi kelak, yang dijadikan Allah 'Azza wa Jalla dalam satu malam, untuk menegakkan keadilan di muka bumi yang telah merata dipenuhi ketidak-adilan, kezaliman, dan porak-poranda (kacau) akibat dosa-dosa manusia.

Hanya Imam Mahdi yang mampu mengembalikan kejayaan Islam dan menghimpun seluruh kekuatan Islam dunia melalui pertolongan Allah 'Azza wa Jalla dan kaum muslimin yang masih lurus Manhaj dan akidahnya dalam menjalankan syari'at Islam, sebab tidak mungkin (baca; mustahil) Al-Imam Mahdi bekerja sama dengan kelompok-kelompok sempalan Islam (72 kelompok) yang menyimpang Manhajnya meskipun dengan dalih Persatuan Islam, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam mereka dengan Neraka.

(Baca artikel, KELOMPOK-KELOMPOK SEMPALAN PERTAMA, dan KELOMPOK-KELOMPOK SEMPALAN LANJUTAN)

Berkaitan dengan konteks hadits yang mulia di atas, kemunculan Imam Mahdi tidak sekedar mengembalikan kejayaan Islam secara fisik di muka bumi ini, tetapi juga memperbaiki (mengembalikan) pemahaman kelompok-kelompok sempalan tersebut ke jalan yang benar (lurus), selaras dengan tugas para 'ulama yang memiliki spesifikasi ilmu Jarh wa Ta'dil (Kritikan dan Pujian).

Setiap 💯 tahun sekali Allah Subhanahu wa Ta'ala memunculkan satu atau beberapa orang Mujaddid yang akan mengembalikan syariat Islam pada kemurniannya.  Dari berbagai penyimpangan dan kesesatan kepada pemahaman yang benar (lurus).

Pada abad ini (abad ke 21), milenium ke-3 bendera itu dipegang oleh Asy-Syaikh, Al-Mujaddid, Al-Muhaddits, Prof. Dr. RABI' bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah.  Beliaulah salah satunya yang akan mendampingi perjuangan Imam Mahdi nanti, in syaa Allah.

(Baca artikel, PANDANGAN ULAMA KIBAR (SENIOR) TERHADAP SYAIKH RABI', dan BIOGRAFI SYAIKH RABI' BIN HADI AL-MADKHALI)

Imam Mahdi-lah yang akan mengubah "buih di atas air bah" tersebut menjadi bening kembali, sehingga bermanfaat bagi seluruh alam.

Meskipun sepeninggal beliau dan Nabi Isa 'alaihissalam kelak dunia ini akan kembali porak-poranda (kacau) - dihuni oleh manusia-manusia yang sama sekali kosong dari iman sampai tegaknya Hari Kiamat Qubra (Besar).

***

Ada perkataan Al-Imam Al-Qadhi Ibnu Abil 'Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi (Wafat 792 H) rahimahullah yang sebangun dengan permasalahan ini:

⭕  "Termasuk perkara yang mustahil adalah, ketika akal bersendirian dalam mengenal Allah dan mengetahui-Nya secara rinci (tanpa bimbingan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallammeskipun dia seorang pakar Bahasa Arab, pen blog).

🔆  Sehingga dengan rahmat Allah yang Maha perkasa lagi Maha penyayang, Allah telah mengutus para Rasul untuk memperkenalkan Diri-Nya, mengajak kepada-Nya, memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang memenuhi seruan mereka, dan memberikan peringatan (dengan Neraka) bagi orang-orang yang menyelisihi mereka.

(Baca artikel, MANHAJ, dan MANUSIA PALING CERDAS MENURUT ISLAM)

🔆  Dan Allah telah menjadikan pembuka dakwah para Rasul dan intisari Risalah mereka adalah mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya (Dengan pengenalan yang benar / shahih, pen blog).

👉  Karena dengan pengenalan inilah dibangun apa yang disebut sebagai Risalah para Rasul, keseluruhannya dari awal hingga akhir."

Selesai kutipan.

📚  Syarh Aqidah Ath-Thahawiyyah Libni Abil 'Izz Al-Hanafi

(Baca juga artikel, THE POWER OF ISLAM)

oOo  

Minggu, 04 Desember 2022

MASALAH IMAN BUKAN MASALAH SELERA

 


بسم الله الرحمن الرحيم

📚  Tunduk Pada Hukum-Nya, Bukan Pada Selera

عَنْ أَبِي مُحَمّدٍ عَبْدِ اللَّهِ بنِ عَمْرِو بنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: 

{لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَواهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ}. 

حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، رُوِّينَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ.

Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, 

“Belum (sempurna) iman salah seorang dari kalian - hingga hawa nafsunya mengikuti seluruh ajaran yang aku bawa.” 

Hadits hasan shahih; kami meriwayatkannya dari kitab “Al-Hujjah” dengan sanad shahih.

——

✅ Petikan Hikmah dalam Hadits

1. Kehendak diri atau hawa nafsu harus ditekan agar mau mengikuti aturan syariat. 

Satu hal yang pasti, bahwa kebaikan bukan pada yang kita inginkan, namun, terletak pada syariat yang Allah tetapkan (diturunkan dari atas langit ke-7, baik yang terdapat dalam Al-Qur'an maupun hadits-hadits shahih Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, karena keduanya merupakan Wahyu yang diturunkan dari atas langit).

(Baca pula artikel, KEIKHLASAN ITU TIDAK BERDASARKAN AKAL-AKAL MANUSIA)

2. Bagi orang beriman, keinginan hatinya harus tunduk mengikuti aturan Agama. 

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata, “Seorang insan hendaknya tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak menentang. 

Jangan membenci aturan yang datang dari Allah dan Rasulullah, meskipun hati merasa berat menjalankan, ia harus sabar dan bertahan. 

Yakinlah, bahwa di sanalah kebaikan berada.  Kendati sulit, ingatlah, Surga memang dikelilingi dengan hal-hal yang sulit (bagi jiwa).” 

(Al-Minhah ar-Rabbaniyyah, hlm. 289)

Lain hal dengan orang yang lemah iman. Baginya keinginan hati adalah nomor satu.  Meskipun tidak diperbolehkan (syari'at) Agama, sekali mau tetap mau. [Taʼliqat Tarbawiyah]. 

3. Muslim artinya mustaslim ‘tundukʼ. Tunduk pada apa saja aturan Allah. Sesuai dengan keinginannya ataupun tidak, ia tetap tunduk dan menerima. [Taʼliqat Tarbawiyah]. 

4. Orang beriman mencintai Allah dan menyukai perintah-perintah-Nya; juga mengagungkan larangan-Nya sekaligus menjauhinya.  Beginilah penerapan dari “... hawa nafsunya mengikuti segala ajaran yang aku (Muhammad) bawa.” [Taʼliqat Tarbawiyah].

Dalam praktiknya, keadaan Ahlul Iman bertingkat-tingkat. Asy-Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi rahimahullah menerangkan, “Dalam masalah ini ada 3 (tiga) tingkatan:

- Pertama

Seorang muslim meyakini bahwa segala ajaran Rasulullah ﷺ benar dan murni kebaikan.  Dianggap sah iman seseorang jika telah yakin terhadap hal ini. 

Akan tetapi, orang di tingkatan pertama ini tidak bisa menahan diri, ketaatannya kurang dan jatuh pula ke dalam maksiat. Demikianlah keadaan kebanyakan ahli iman. 

- Kedua

Keyakinannya sama seperti yang sebelumnya [meyakini bahwa segala ajaran Rasulullah ﷺ benar dan seratus persen baik].  Ia pun mampu menjaga diri di atas ketaatan, tetapi ada kecenderungan rasa berat di hatinya. Orang-orang di tingkatan ini lebih sedikit. 

- Ketiga

Keyakinannya juga sama dengan yang telah lalu, tetapi jiwanya menerima setunduk-tunduknya.  Tidak ada rasa menolak sama sekali.  Tidak merasa sempit dan berat kepada ajaran yang dibawa Rasulullah ﷺ, meski tidak sesuai dengan hawa nafsunya.  Bahkan hawa nafsunya ia buat selaras dengan (syari'at) yang diajarkan oleh Rasul. 

Orang-orang di tingkatan ketiga ini sangat-sangat langka. Inilah pengikut (sejati) Nabi Muhammad ﷺ yang jika mengetahui ada ucapan dan perbuatan Beliau, maka hatinya langsung lapang menerima. 

Ia menyambutnya dengan sebesar-besarnya rasa ridha dan bahagia. Kemudian menyatu dalam hati dan raganya.  Bahkan seandainya makhluk sepenuh bumi berusaha menghalangi dari mengikuti ucapan atau perbuatan Nabinya yang tercinta, ia tidak bergeming, tetap menolak untuk meninggalkannya. 

Ia tidak peduli berbeda jalan dengan siapa pun.  Ah, di manakah para pengikut Nabi Muhammad ﷺ yang seperti ini di zaman sekarang? 

Ya Allah, jadikanlah sunnah hamba yang Engkau cintai – Nabi Muhammad ﷺ – agar lebih kami cintai melebihi cinta terhadap nyawa dan jiwa kami.” (Tuhfatul Muhibbin, hlm. 186-187)

5.  Orang beriman tidak mencari ibadah yang cocok dengan hatinya ("selera Nusantara"). Yang terpenting itu ibadah berlandaskan keta'atan (kepada Allah dan Rasul-Nya), maka ia laksanakan. [Taʼliqat Tarbawiyah].


*  Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menyebut manusia semacam ini dengan Al-Ghuraba (Orang Asing), karena dia berbeda dengan 72 (tujuh puluh dua) golongan Sempalan Islam dengan "Gaya dan seleranya masing-masing".  Namun, di penghujung hadits tersebut Beliau mengatakan, "Berbahagialah orang-orang yang asing," karena mereka senantiasa berpegang teguh pada Kebenaran di tengah mayoritas manusia yang telah rusak / sesat (menyimpang), (pen blog).

oOo


Disalin dengan editan dari;

‎✍  Hari Ahadi @ Kota Raja

📡 https://t.me/nasehatetam 

🖥 www.nasehatetam.net

Sabtu, 03 Desember 2022

TERLAMBAT SHALAT JUM'AT

 


بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah ditanya;

Pertanyaan:

Jika saya masuk masjid dalam keadaan imam sudah shalat di tasyahud, apakah saya shalat jumat ataukah zhuhur?


Jawaban :

Jika seorang masbuq shalat jumat tidak mendapati kecuali sujud atau tasyahud, maka sesungguhnya dia harus shalat zhuhur bukan jum'at, karena shalat jum'at itu diperoleh dengan satu rakaat bersama imam, berdasarkan sabda Nabi ﷺ :

من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة.

Barangsiapa mendapati satu rakaat dari shalat, maka sungguh dia telah mendapatkan shalat.

[HR. Al-Bukhari - Muslim]

Dan sabda Beliau ﷺ :

من أدرك ركعة من الجمعة فليضف إليها أخرى وفد تمت الصلاة.

Barang siapa mendapati satu rakaat dari shalat jum'at, hendaklah dia menambahkan satu rakaat lainnya.

Dari dua hadits tadi bisa diketahui, bahwasanya barangsiapa tidak mendapati satu rakaat dari Jum'at, maka dia telah terluput dari shalat jum'at dan dia wajib melaksanakan shalat zhuhur.

Allah semata tempat meminta taufiq.”


📑  Majmu Al-fatawa, 12/330


oOo

Disalin dengan editan dari;

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso 



Jumat, 02 Desember 2022

HAKIKAT RENDAH HATI

 


بسم الله الرحمان الرحيم

Berkata Al-Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah;

"Rendah hati artinya tunduk pada Kebenaran.  Engkau menerima kebenaran itu meskipun anak kecil yang menyampaikannya.  Engkau menyambut kebenaran itu meski datang dari orang yang paling bodoh."*

(At-Tawadhu wal Khumul, Ibnu Abid Dunya, hal 118)


*  Sedangkan orang yang tinggi hati (sombong), adalah orang yang menolak kebenaran, meskipun kepribadiannya ramah dan lemah-lembut, karena ia berpatokan pada orang yang menyampaikannya, bukan konten yang disampaikan.  

Sumber Kebenaran itu hanya Satu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.  Dia menyusupkannya ke dalam hati siapapun yang dikehendaki-Nya.  Rasul shalallahu 'alaihi wa sallam hanya sebagai perantara (menyampaikan), (pen blog).

oOo

Kamis, 01 Desember 2022

PENYEBAB GEMPA BUMI

 


بسم الله الرحمن الرحيم

🔊  Berkata Sahabat yang mulia Ka'ab radhiyallahu'anhu,

 إنما تزلزل الأرض إذا عمل فيها بالمعاصي

"Sesungguhnya hanyalah bumi itu akan bergoncang apabila dilakukan berbagai kemaksiatan di atasnya."*

📚  Al-Jawab Al-Kafi, 30


*  Seandainya manusia mau merenungkan ucapan Sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di atas dengan jujur, tentu mereka akan mengakuinya - dan kembali bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (Inabah), tidak sekedar membahas sebab-sebab topografis belaka, (pen blog).

oOo

Disalin dengan editan dari;

https://t.me/KajianIslamTemanggung