Minggu, 23 Agustus 2020

SEPUTAR BULAN AL-MUHARRAM


بسم الله الرحمان الرحيم

Bulan Al-Muharram termasuk bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Melakukan berbagai amal shalih pada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala akan beroleh ganjaran pahala yang sangat besar, tetapi bila melakukan perbuatan-perbuatan kufur, keyakinan-keyakinan yang rusak juga akan dibalasi dengan dosa yang berlipat-lipat pula besarnya.


🔴 BULAN AL-MUHARRAM MENURUT MASYARAKAT JAWA

📝 Bagi masyarakat Jawa, bulan Al-Muharram atau yang lebih dikenal dengan bulan Suro memiliki nilai religi yang tinggi. Bulan ini dianggap sebagai bulan keramat yang tidak boleh dibuat pesta dan bersenang-senang sehingga banyak aktivitas yang ditunda atau bahkan dibatalkan.
Lebih dari itu, mereka meyakini siapa yang mengadakan hajatan pada bulan ini akan ditimpa musibah dan malapetaka. Sebagai contoh adalah pernikahan, masyarakat Jawa pada umumnya, enggan menikahkan putra atau putri mereka di bulan ini karena khawatir ditimpa petaka dan kesengsaraan bagi kedua mempelai.

📌 Ketika ditanya mengenai alasan mereka menilai bulan Al-Muharram sebagai bulan keramat nan penuh pantangan, tidak ada Jawaban berarti (ilmiah) dari mereka selain, 'Beginilah tradisi kami' atau 'Beginilah yang diajarkan bapak-bapak kami'.

📝 Para pembaca rahimakumullah, sikap mengikuti tradisi atau leluhur tanpa bimbingan Islam adalah terlarang, bahkan sikap seperti ini termasuk sifat orang-orang jahiliyah dan penyembah berhala. Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an menyebutkan Jawaban orang-orang Quraisy ketika diajak oleh Rasulullah ` untuk meninggalkan kesyirikan, kata mereka:

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

📖 “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.”  (QS. Az-Zukhruf: 22)

🔥 Demikian pula Fir'aun, ketika diajak oleh Nabi Musa 'Alaihis Salam agar beriman kepada Allah, ia malah berkata:

📖 "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya."  (QS. Yunus: 78)

❌ Kemudian, anggapan sial untuk melakukan aktivitas di bulan Al-Muharram yang diyakini oleh keumuman masyarakat Jawa saat ini dalam ajaran Islam disebut Tathoyur atau Thiyaroh, yaitu meyakini suatu keburuntungan atau kesialan didasarkan pada kejadian tertentu, atau tempat tertentu.

📌 Anggapan seperti ini sebenarnya sudah ada sejak zaman jahiliyah. Setelah Islam datang, maka ia dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus ditinggalkan.

📌Allah Ta'ala berfirman:

📖 "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”  (QS. Al-A’raf: 131)

🔗 Dalil yang menunjukkan bahwa Thatoyur atau Thiyaroh termasuk kesyirikan adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاثًا

👉🏻 "Thiyaroh adalah kesyirikan", beliau mengulangnya sebanyak tiga kali." (HR. Ahmad dan Abu Daud, dari shahabat Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu 'anhu)

🌸 Apabila kita telah tahu bahwa anggapan sial atau keberuntungan seperti itu termasuk kesyirikan, kewajiban kita selanjutnya adalah menjauhinya dan menjauhkannya dari anak dan istri kita. Sehingga kita beserta keluarga kita tidak terjerembab kedalam kubangan dosa besar yang paling besar, yaitu dosa syirik.


🔴 BULAN MUHARRAM MENURUT SYI'AH

📌 Berbeda halnya dengan orang-orang Syi’ah, apabila keumuman masyarakat Jawa menjadikan bulan Al-Muharram sebagai bulan 'istirahat' dari melakukan aktivitas, justru orang-orang Syi’ah menjadikannya sebagai hari belasungkawa. Pada setiap tanggal 10 Muharram, orang-orang Syi'ah di Iran mengadakan pawai akbar untuk memperingati hari terbunuhnya cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Husein bin Ali Radhiallahu 'anhuma di padang Karbala.

📝 Acara rutin mereka tersebut dimulai sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Muharram. Pada tanggal 1 Muharram sampai tanggal 9 Muharram mereka mengadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju Al-Huseiniyah. Al-Huseiniyah adalah tempat ibadah Syi'ah, kalau kaum muslimin menyebutnya masjid, tetapi biasanya Al-Huseiniyyah digunakan untuk makam Imam, bukan untuk shalat, sedang shalat dilakukan di luar bangunan. Penamaan ini diambil dari nama Imam Syi'ah ke 3, yaitu Al-Imam Husein bin Ali radhiallahu 'anhuma.
Peserta pawai hanya mengenakan celana atau sarung saja sedangkan badannya terbuka. Selama pawai, mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan rantai besi sehingga meninggalkan luka memar yang mencolok.

Kemudian, pada acara puncak, mereka mengenakan kain berwarna putih dan ikat kepala berwarna putih pula. Setelah itu, mereka menghantamkan pedang, pisau, atau benda tajam lainnya ke kepala dan dahi mereka sehingga darah pun bercucuran. Darah yang mengalir ke kain putih membuat suasana semakin haru dan duka, bahkan tak sedikit di antara mereka yang menangis histeris.

🔥 Lebih parah lagi, di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan, orang-orang Syi'ah menutup acara mereka itu dengan 'malam gembira' berupa mut'ah (baca; perzinahan) secara masal. Na'audzu billahi min dzalik.

🌏 Demikianlah gambaran ringkas tentang aktivitas Syi'ah di bulan Al-Muharram. Seperti yang telah kami sebutkan, tujuan utama mereka adalah untuk mengenang terbunuhnya Husein bin Ali radhiallahu 'anhuma.


📡 Para pembaca rahimakumullah, sebagai seorang muslim tentu kita juga sangat bersedih dengan peristiwa tragis nan menyayat hati yang menimpa cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu.

🕋 Namun, Islam melarang pemeluknya yang tertimpa musibah untuk berucap atau berbuat sesuatu yang menunjukkan ketidak-ridhaan kepada keputusan Allah, seperti, merobek baju, menampar pipi, menjambak rambut, menangis histeris, apalagi menyayat kepala dan dahi seperti yang dilakukan orang-orang syi'ah tersebut.

📍  Bandingkanlah kelakuan mereka itu dengan perbuatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan ahlul bait (keluarga) Beliau.

🔗 Ingatlah ketika Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam kehilangan putranya bernama Ibrahim.  Tidak ada yang beliau lakukan selain berucap,

📗”Sesungguhnya air mata terus mengalir dan hati ikut bersedih, tetapi kami tidak akan berucap kecuali yang diridhai Allah. Dan sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, merasakan kesedihan dengan kepergianmu”  (HR. Al-Bukhari)

✔️ Demikian pula ketika Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kehilangan seorang paman yang sangat beliau cintai, yaitu Hamzah bin Abdul Muttalib radhiallahu 'anhu. Tidak pernah diriwayatkan bahwa Beliau dan ahlul baitnya memukul punggung-punggung mereka dengan rantai apalagi menghantamkan benda tajam ke kepala dan dahi mereka.

✅ Tidak pula cara berkabung ’ala’ Syi’ah tersebut dipraktekan oleh Imam Husein radhiallahu 'anhu ketika kehilangan ayahnya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu, yang juga mati syahid secara zhalim. Tidak pula dipraktekkan oleh Hasan bin Ali radhiallahu 'anhu ketika kehilangan saudara kandungnya, yaitu Husein bin Ali radhiallahu 'anhu .

🍏 Perbuatan nyeleneh seperti itu sengaja mereka (kaum muslimin)  hindari karena tidak ingin mendapatkan (terkena) ancaman Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam yang disebutkan dalam haditsnya:

📗 "Bukan dari golongan kami barang siapa yang menampar pipi, merobek baju, atau meratap dengan ratapan jahiliyah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu)

⬇️⬇️⬇️

🍏 Dalam hadits lain, Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengancam para wanita peratap yang mati dan belum bertaubat, yaitu akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan pakaian dari tembaga meleleh yang berbau busuk..

📝 PENUTUP


🌻 Para pembaca rahimakumullah, itulah fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat seputar perbedaan menyikapi bulan Al-Muharram.

✔️  Sebagai seorang muslim seharusnya kita bisa membedakan antara syari'at dan adat. Syari'at harus dikedepankan, meskipun menyelisihi adat. Sebaliknya, adat harus disingkirkan ketika menyelisihi syari'at, demikianlah ajaran Islam yang benar dan lurus. Karena dengan sikap inilah Islam akan jaya. Adapun jika umat masih mengedepankan adat dan tradisi, padahal bertentangan dengan syari'at, maka pada saat itulah mereka akan ditimpa kehinaan dan kerendahan, inilah makna hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

"Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapa saja yang menentang syari'atku." (HR. Al-Bukhari, dari shahabat Abdullah bin 'Umar radhiallahu 'anhuma)

🕋 Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan tambahan ilmu bagi saudara-saudaraku seiman dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal 'alamin...


🌻MEMULIAKAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN AL-MUHARRAM

Abu Utsman An-Nahdi rahimahullah mengatakan :

كَانُوا يُعظّمُونَ ثَلاثَ عَشَراتٍ

Dahulu para Salaf memuliakan tiga macam sepuluh hari :

العشر الأخير من رمضان

▫️ Sepuluh terakhir bulan Ramadhan

والعشر الأول من ذي الحجة

▫️ Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

والعشر الأول من المحرم

▫️ Sepuluh hari pertama bulan Al-Muharram


oOo
Disadur dari; Salafy Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar